Ketika Kesulitan Ada Di Depan, Sebagai Orang Kristen : Apa Sikap Anda?
KITA membutuhkan apa yang disebut sebuah kekuatan atau daya untuk menghadapi kesulitan atau intimidasi kegagalan dalam hidup ini.
Yang dimaksud "intimidasi kegagalan" dalam tulisan ini ialah salah satu kekuatiran yang dialami seseorang bahkan orang percaya sekalipun bahwa apa yang dikerjakannya akan berujung pada kegagalan saja.
Mengapa banyak orang menyerah dan mengambil keputusan untuk mundur?
Dan mengapa mereka mengijinkan kekuatiran dan kecemasan membohongi mereka?
Bayangan kegagalan masa lalu dan intimidasi kegagalan saat ini seringkali menjadi momok yang mendegradasi iman percaya mereka. Jalan keluar yang disarankan dalam situasi tersebut ialah : tidak tunduk pada skenario yang diciptakan intimidasi kegagalan. Yang kedua, merubah point of view atau cara memandang kondisi tersebut.
Ketika seseorang mengalami musim terpuruk karena kegagalan, sebenarnya mereka sedang berada apa yang disebut dalam Alkitab sebagai "lembah kekelaman"
Mazmur 23a :
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku
Tuhan tidak pernah berjanji bahwa seseorang akan selalu berada pada puncak kejayaan. Ada saat tertentu mereka harus berada dalam lembah penderitaan. Ketika seseorang berada pada posisi ini, yang diperlukan tentu memperbaiki sudut pandang. Memandang lembah kekelaman sebagai akhir dari perjalanan seseorang adalah tindakan absurd. Sebaliknya, dengan memandang lembah kekelaman sebagai wujud dan "persekutuan.. dengan Yesus dalam penderitaan" sebagaimana yang tertulis dalam Filipi 3 : 10 yang bunyinya : "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya."
Kitab Yakobus 1 : 12
"Berbahagilah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Perhatikan bahwa Allah sedang membimbing orang percaya untuk memilih sikap positif dalam menghadapi penderitaan. Allah ingin mengubah mindset, paradigma atau sudut pandang yang selaras dengan pikiran-Nya. Allah menghendaki untuk melihat penderitaan sebagai suatu "KEBAHAGIAAN."
Dengan demikian, prinsip "tidak akan pernah menyerah' dalam menyikapi soal-soal kehidupan harus menjadi ketetapan bagi ahli waris Kerajaan Sorga.
Lukas 21 : 17-19
"dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku, tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."
Dengan memandang penderitaan sebagai kebahagiaan, anugerah dan berkat, orang yang percaya bukan hanya dapat BERTAHAN bahkan beroleh janji kehidupan yang sejati.
Rencana Allah : Karakter Allahi
Apakah Anda pernah merasa dijauhi Allah? Apakah Anda pernah merasa putus asa dan menuduh Allah berlaku tidak adil? Apakah Anda pernah menghakimi Allah dengan menuduh bahwa Dia salah? Apakah Anda kemudian menanggapinya dengan berkata, "Kalau begitu lebih baik aku emengundurkan diri saja dari pekerjaan Tuhan !". Sesungguhnya, Allah tidak menghendaki Anda bersikap seperti itu. Dia ingin Anda menikmati kebahagiaan di saat penderitaan itu Tuhan ijinkan terjadi pada diri Anda tanpa bersungut-sungut.
Ada kalanya Allah sedang menyiapkan diri Anda dengan karakter dan kualifikasi tertentu untuk sebuah misi Kerajaan Sorga. Namun seringkali Anda tidak sabar bahkan mencurigai Allah dengan menyalahkan ketidak mengertian Allah. Di balik penderitaan, Allah sedang membentuk Anda menjadi pribadi yang lemah lembut dan berbelas kasih dengan menyingkirkan kesombongan dan kekerasan hati Anda. Jika Anda menjadi pahit dan menyerah menanggapi penderitaan ataupun persoalan, Anda sedang membangun rencana Anda sendiri sekaligus menolak Rencana Allah.
Paul G. Caram dalam bukunya, Kekristenan Sejati menggambarkan Petrus sbb :
"Petrus mengalami sebuah kegagalan yang luar biasa -- ia mengutuk dan menyangkal Tuhan. Itu merupakan sebuah pengalaman yang pahit baginya. Dengan kesombongan dan bualan yang ia ciptakan, ia telah menjerat dirinya sendiri untuk masuk ke dalam suatu pencobaan yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Pernyataan yang terlalu berani dan tergesa-gesa : "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak."
(Matius 26 : 34-35 -- penulis).
Ketika Yesus memberitahu kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami puncak penderitaan di Yerusalem, di Bukit Golgota, Petrus menanggapinya dengan cara pandang duniawi. Dalam pikiran Petrus, Yesus akan menjadi "Raja" dari Kerajaan Dunia. Petrus menanggapi penderitaan Yesus sebagai sesuatu kegagalan dan rasa malu yang besar.
Petrus telah membuka dirinya untuk dicobai. Kegagalan yang ia alami begitu menghancurkan keakuannya. Pada situasi seperti itu, dia mulai mengambil ancang-ancang untuk berhenti sebagai murid dan pengikut Kristus.
Yesus Kristus tidak ingin membiarkan Petrus meratapi kegagalan, kekecewaan dan sikap menyalahkan dirinya sendiri. Petrus harus keluar dari intimidasi kekecewaan itu.
Dalam Injil Yohanes 21 : 15-19 Yesus dengan lemah-lembut mengajak Petrus untuk keluar dari tekanan kegagalan dengan cara pandang Kerajaan Allah atas dasar kasih yang sejati. Di depan saudara-saudaranya yang seiman, secara terbuka, Yesus Kristus mengaruniakan kepadanya untuk "menggembalakan domba-domba-Nya."
Yesus sedang memberi pelajaran kepada Petrus tentang kasih. Bahwa kasih yang sesungguhnya ialah jika Petrus taat melakukan perintah-Nya.
Setelah keluar dari intimidasi kegagalan dan momen perjumpaan dengan Yesus Kristus, Petrus tampil menjadi "manusia baru." Petrus mengalami apa yang disebut dalam bahasa Yunani sebagai "ginosko" yang dimaknai dalam bahasa Inggris sebagai knowing by experience. Bahwa pengenalan kepada Yesus Kristus bukan sebatas pengetahuan tentang Yesus tetapi diperoleh melalui pengalaman perjumpaan dengan Dia dalam Firman dan karya Roh Kudus.
Restorasi seluruh kehidupan Petrus pasca pertemuan dengan Yesus setelah kebangkitan-Nya, memberi dampak kuasa kebangkitan pada Petrus. Ia kemudian muncul sebagai pemimpin dari kedua belas rasul. Lima puluh hari setelah itu, pada hari Pentakosta, ia berkhotbah dengan penuh kuasa. Kita memerlukan kekuatan dan daya tahan serta pemulihan untuk bangkit kembali dari kegagalan dan kekecewaan.
Musa menyikapi masalah
dengan kepala tegak
Kitab Bilangan 12 : 3, menulis salah satu karakter Musa sbb :
"Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi".
Sedikit berbeda dengan terjemahan LAI di atas, terjemahan New International Version (NIV) pada ayat yang sama menulis :
"Now Moses was a very humble man, more humble than anyone else on the face of the earth.'
Meskipun demikian, baik sifat lembut maupun rendah hati yang terdapat pada diri Musa merupakan bawaan natural dari benih orang tuanya dan didikan "sekolah" etika dan kecakapan di istana Mesir sebagai pangeran.
Allah masih membiarkan benih gandum dan lalang bertumbuh bersama tanpa mencabut salah satu diantaranya.
Di sini, Allah bekerja dengan time table, disiplin dengan schedule-Nya. Kapan masa atau waktu menurut manusia dan kapan menerapkan masa atau waktu secara spiritual memerlukan tingkat pengenalann kepada Tuhan.
Para penulis sering membagi perjalanan hidup Musa dalam tiga periodesasi. Empat puluh tahun pertama, dia dibesarkan di istana Mesir, empat tahun kedua merupakan periode dimulainya perjalanan rohani. Bilangan empat puluh biasanya dimaknai sebagai masa kedewasaan dan periode satu generasi suatu bangsa.
Anda dapat melihat berikut ini bagaimana pertumbuhan dan perubahan karakter Musa melalui peristiwa-peritiwa yang dialaminya :
- Diangkat oleh putri Firaun
- Membunuh seorang Mesir
- Lari ke tanah Midian
- Kawin dengan Zipora
- Diutus oleh Tuhan
- Kembali ke Mesir
- Menghadap Firaun
- Memimpin umat Israel menyeberangi Laut Teberau
- Menngangkat hakim-hakim
- Naik menghadap Tuhan
- Marah karena anak domba emas
- Berbicara dengan Tuhan
- Mendirikan Kemah Suci
- Menghitung jumlah umat Israel
- Dikata-katai Miryam dan Harun
- Mengutus 12 pengintai
- Memilih Yosua sebagai pengganti
- Diperintah Allah untuk berbicara kepada Batu Karang, tetapi yang dilakukannya memukul Batu Karang itu.
- Menasehati umat
- Memberkati suku-suku
- Mati dan dikuburkan di tanah Moab
Dari sekian banyak pekerjaan yang dilakukannya, peristiwa pemukulan
terhadap Batu Karang merupakan tragedi besar yang dialami Musa. Sebelumnya, Allah memerintah Musa untuk berbicara kepada Batu Karang agar mengeluarkan air yang diperlukan umat Israel dalam sebuah perjalanan di padang gurun (Bilangan 20 : 7-12).
Ketika Musa memukul batu karang itu dengan tongkatnya, kondisi bangsa Israel pada saat itu berada pada tingkat terendah dengan segala persungutan, kemarahan dan ketidak percayaan kepada Allah, juga kepada pemimpinnya.
Di sini Musa berada dalam tekanan luar biasa. Intimidasi dan provokasi silih-berganti setiap hari merupakan batu ujian terberat Musa. Yang terdengar bukan nyanyian penganggungan kepada Tuhan, justru suara persungutan menggema mendominasi tenda-tenda umatnya. Karakter lembut dan rendah hati Musa seperti yang ditulis sebelumnya, kini lenyap bagai angin dalam seketika akibat ketidak sabaran dan kemarahannya. Ia tidak berbicara kepada batu karang itu sesuai perintah Allah, melainkan memukul batu karang itu dengan sikap kesal, marah dan tidak sabar (Mazmur 106 : 32-33).
Berbeda dengan Petrus, Musa ketika menghadapi kegagalan dan kesalahan ini menerima semua konsekuensi dan hukuman atas perbuatan yang dilakukannya dengan kepala tegak. Reaksi Musa dapat kita temukan dalam Ulangan 4 : 1 dimana dia tidak mengundurkan diri dari pengabdiannya kepada Tuhan. Dia terus mengajarjan jalan-jalan Allah kepada bangsa Israel.
Bertahun-tahun setelah itu, Musa dibangkitkan dan dia menampakkan diri kepada Kristus di atas gunung dimana Yesus dimuliakan (Yudas 1 : 9, Matius 17 : 3).
Tanda kekuatan dan karakter adalah kemampuan untuk bangkit kembali dari kegagalan dan kesalahan yang dilakukan. Jika kita berjalan dengan cara pandang Tuhan dalam menghadapi setiap kesulitan, kita tidak akan menyerah, tidak mundur dari ladang Tuhan, Dan janji Tuhan Anda makan bersama Tuhan Yesus semeja dan sehidangan dalam kekekalan.
Semoga memberkati Anda
Fredy Bastian Sitompul
Komentar
Posting Komentar